TARI CACI:
Sepasang penari caci saling memukulkan cambuk ke lawan masing-masing
pada pagelaran seni yang diselanggarakan RRI Kupang, belum lama ini.
ayunan keras pecut dari seorang
pria langsung menimbulkan bunyi seperti petir, menghentak ratusan peno
nton Panggung Hiburan yang digelar Radio Republik
Indonesia (RRI) Stasiun Kupang. Empat pria muda yang memegang pecut serta
menggunakan busana khas Manggarai yang sudah dilengkapi tameng, dan pelindung
lainnya badan, saling unjuk kebolehan.
Dua di antara empat orang itu saling
berhadap-hadapan, seorang diantaranya mengambil posisi siap menyerang sementara
yang lainnya mengambil posisi bertahan. Dan, sebelum menyerang, pecut tersebut
di kibas-kibas sehingga menyebabkan bunyi-bunyi yang keras dan tajam, tak ubahnya
petir.
Tidak lama kemudian, seorang di antaranya
mengibaskan pecut ke tubuh seorang yang mengambil posisi bertahan dan penoton
pun berteriak histeris. Para penari cari terus saja beraksi mengikuti irama
musik dan lagu.
Empat pria ini merupakan bagian dari grup
Tari Caci dari Sanggar Wela Rana Pauk-Kupang yang tampil membawakan atraksi
caci.
Tarian ini dibawakan oleh empat orang dan
didukung delapan orang penyanyi tradisional untuk mengiring penampilan grup
ini. Empat orang itu adalah Anyok Fanis Sina, Roby Yanuarius, Renold Yoland dan
Dolfus Jama.
Mereka yang membawakan atraksi caci ini
merupakan gambaran pria Manggarai yang memiliki nyali untuk bertarung. Mereka
saling serang dan bertahan, bahkan saling melukai. Namun tidak ada dendam di
antara mereka. Yang ada hanya suka cita.
Caci merupakan tarian atraksi dari bumi
Congkasae- Manggarai. Hampir semua daerah di wilayah ini mengenal tarian ini.
Kebanggaan masyarakat Manggarai ini sering dibawakan pada acara-acara khusus.
Peralatan dalam tarian ini antara lain cambuk
(larik), perisai (giliq), pelindung dada, pelindung kaki dan lutut (bik) dan
pelindung kepala (pangga).
Semua bahan ini terbuat dari kulit kerbau.
Masing- masing pihak mendapat kesempatan memukul dan pihak lainnya menangkis.
Dan masing-masing mendapat giliran untuk memukul dan menangkis.
Giring-giring yang digantungkan di belakang
pinggangnya agar pada saat menari dapat mengeluarkan irama atau nada yang merdu
didengar dalam mengikuti irama gong yang dibunyikan oleh kelompoknya. Tarian
ini diiringi musik tradisional Manggarai dan serta syair-syair berbahasa
Manggarai.
Servas S Budiman, anggota Sanggar Wela Rana
Pauk ini mengatakan, tari caci saat ini sudah kurang populer di kalangan anak
muda di Manggarai, apalagi mereka yang sudah tinggal di kota. Ada juga yang
masih meminati tarian ini namun tidak memahami makna yang terkandung dalam
tarian ini.
Menurutnya, caci sebenarnya merupakan
gambaran suka ria dan cinta kasih antara petarung. Sebab, tarian ini berasal
dari kasih sayang seorang kakak pada adiknya. "Jadi tidak ada dendam dalam
pertarungan ini.
Caci sendiri dari legendanya menggambarkan
begitu besar cinta kasih sang kakak pada adik. Sehingga tradisi kasih sayang
itu disalurkan dalam bentuk ini, sehingga para petarung tidak boleh dendam
meski harus mengalami luka akibat terkena pecut lawannya," jelas anak muda
asal Manggarai ini.
Komhukum (Jakarta) - Matahari baru meninggi ketika saya
menginjak kaki di desa Wolomboro kabupaten Manggarai Provinsi Nusa Tenggara
Timur.
Hari ini riuhan warga mendendangkan
lagu-lagu daerah yang mengisahkan amsal khusus atas panenan yang berlimpah
sepanjang setahun. Tampak pula kestaria muda bertelanjang dada melangkah mantap
menuju arena. Ya itulah gambaran sepintas saat pergelaran tarian caci yang akan
berlangsung di arena di kampung Wolomboro.
Caci atau tari Caci adalah tari perang sekaligus permainan rakyat antara
sepasang penari laki-laki yang bertarung dengan cambuk dan perisai di Flores,
Nusa Tenggara Timur, Indonesia.
Penari yang bersenjatakan cambuk (pecut) bertindak sebagai penyerang dan
seorang lainnya bertahan dengan menggunakan perisai (tameng). Tari ini
dimainkan saat syukuran musim panen (hang woja) dan ritual tahun baru (penti) ,
upacara pembukaan lahan atau upacara adat besar lainnya, serta dipentaskan
untuk menyambut tamu penting atau pun pada HUT RI.

Seorang laki-laki yang berperan sebagai pemukul (disebut
paki) berusaha memecut lawan dengan pecut yang dibuat dari kulit kerbau/sapi
yang dikeringkan. Pegangan pecut juga dibuat dari lilitan kulit kerbau. Di
ujung pecut dipasang kulit kerbau tipis dan sudah kering dan keras yang disebut
lempa atau lidi enau yang masih hijau (disebut pori).
Laki-laki yang berperan sebagai penangkis (disebut ta’ang), menangkis lecutan
pecut lawan dengan perisai yang disebut nggiling dan busur dari bambu berjalin
rotan yang disebut agang atau tereng. Perisai berbentuk bundar, berlapis kulit
kerbau yang sudah dikeringkan. Perisai dipegang dengan sebelah tangan,
sementara sebelah tangan lainnya memegang busur penangkis.
Adegan ceremonial ini menampilkan pertarungan sengit dan berdarah. Tampak
seorang petarung caci berputar-putar dan berjingkrak seperti kuda jantan
mengelilingi sekelompok musuhnya.
Kulit hitam di bawah sengatan sinar mentari menutupi otot-otot kering yang
mencengkeram sebuah pecut kayu berujung kulit kerbau yang suaranya dapat
mengoyak suasana riuh rendah.

Setelah saling memanaskan besutan adrenalin, seorang paki,
penyerang yang memegang pecut, bersiap dengan kuda-kudanya mengayunkan sabetannya
ke arah seorang ta’ang, yaitu penangkis yang diam bagai pasak. Ta’ang siap
menangkis dengan sebongkah nggiling yaitu tameng kulit kerbau di tangan kiri
dan tereng yaitu kayu penangkis di tangan kanan.
Tari caci yang berasal dari daerah di barat pulau Flores ini menyiratkan simbol
dan makna kepahlawanan serta keperkasaan. Tarian ini melibatkan dua orang
laki-laki yang masing-masing bertindak sebagai penyerang dan sebagai pihak yang
bertahan (penangkis serangan).
Penari Caci yang saling unjuk kebolehan tersebut biasanya berasal dari dua
kelompok, masing-masing terdiri dari delapan orang yang secara bergantian
bertukar posisi sebagai kelompok penyerang dan bertahan. Setiap penari akan
mendapat kesempatan berhadapan dengan anggota kelompok lawan, baik sebagai
penyerang atau penangkis serangan.
Para penari caci semuanya adalah laki-laki tetapi tidak semua lelaki dapat
unjuk kebolehan dan keterampilan di arena caci. Terdapat sejumlah persyaratan
yang harus dipenuhi diantaranya adalah tubuh atletis adalah salah satu syarat
yang harus dimiliki seorang penari caci.
Syarat lainnya, penari harus pandai pula menyerang lawan dan atau bertahan dari
serangan lawan, luwes dalam melakukan gerak tari, serta dapat menyanyikan lagu
daerah. Hal-hal tersebut yang akan mereka lakukan selama pertunjukkan yang
diringi musik gendang, gong, dan nyanyian.

Pakaian penarinya yang khas sudah menjadi daya tarik
sendiri. Penari perang tersebut mengenakan celana panjang berwarna putih dipadu
dengan kain songke (sejenis songket khas Manggarai) yang dikenakan di sebatas
pinggang hingga lutut.
Tubuh bagian atas dibiarkan telanjang sebab tubuh tersebut adalah sasaran bagi
serangan lawan. Pada bagian kepala, para penari mengenakan topeng (panggal)
berbentuk seperti tanduk kerbau dan terbuat dari kulit kerbau yang keras serta
dihiasi kain warna-warni. Panggal akan menutupi sebagian muka yang sebelumnya
sudah dibalut dengan handuk atau destar sebagai pelindung.
Bersiaplah mendengar deru suara tandak atau danding menggaung saat pecut
menghantam lawan. Bagai suara senapan menggelegar, tameng beradu dengan ujung
pecut terbuat dari kulit kerbau. Seutas lidi yang dipasang di ujung pecut atau
mbete luput dari tameng ataupun tereng. Luka menggurat mengucurkan darah. Sorak
penonton menggema, memahami makna tetesan darah sebagai persembahan untuk
kesuburan dan lambang kejantanan.
Para penari biasanya juga mengenakan hiasan mirip ekor kuda terbuat dari bulu
ekor kuda (lalong denki). Pada bagian sisi pinggang terpasang sapu tangan
warna-warni yang digunakan untuk menari setelah atau sebelum dipukul lawan.
Terdapat pula untaian pada pinggang belakang yang akan bergemirincing mengikuti
gerak penari sekaligus penambah semarak musik gendang dan gong serta nyanyian
(nenggo atau dere) pengiring tarian.
Para penari tersebut nampak gagah mengenakan pakaian tersebut ditambah lagi
dengan postur tubuh yang atletis. Penampilan mereka sebagai penari perang
semakin meyakinkan dengan atribut senjata.

Penari yang berperan sebagai penyerang (paki) dipersenjatai
dengan cambuk yang terbuat dari kulit kerbau atau kulit sapi yang dikeringkan.
Pegangan cambuk juga terbuat dari lilitan kulit kerbau. Pada bagian ujung
cambuk, biasanya dipasang kulit kerbau tipis yang sudah dikeringingkan (lempa)
atau dapat juga menggunakan lidi enau yang masih hijau (pori).
Tak sama seperti beberapa bela diri lain, dalam Caci boleh menyerang bagian
tubuh dari perut hingga kepala tetapi tidak bagian perut ke bawah. Acap kali
mengenai mata pun sudah menjadi hal lumrah. Sebelum Caci dilangsungkan, sebuah
pemanjatan nyanyian bernama kelong dialunkan sebagai panggilan kepada arwah
para leluhur. Saat kelong dilantunkan, dan tandak atau danding mengikuti, maka
Caci harus dilaksanakan. Tidak ada kelong tanpa Caci dan sebaliknya.
Sementara itu, penari yang berperan sebagai penangkis serangan (ta’ang)
dibekali perisai (nggiling) yang juga terbuat dari kulit kerbau yang
dikeringkan dan berbentuk bundar. Selain itu, ia juga memegang sejenis busur
(agang atau tereng) yang terbuat dari bambu dan rotan yang berjalin dan
dibentuk melengkung serupa busur.
Sebelum tarian seru ini dimulai, pertunjukan tari caci akan diawali terlebih
dahulu dengan pentas tari danding atau tandak manggarai. Tarian ini dibawakan
laki-laki dan perempuan yang memang khusus dipertunjukkan sebagai atraksi
untuk meramaikan tari caci.

Selain melakukan gerak tari, para penari danding juga akan
melantunkan lagu dengan lirik untuk membangkitkan semangat para petarung Caci.
Para penari Caci sebelum memasuki arena yang biasanya di lapangan berumput,
akan terlebih dahulu melakukan gerakan pemanasan dengan menggerakkan
badannya serupa gerakan kuda. Saat menantang lawan, biasanya dilakukan sambil
menyanyikan lagu-lagu adat.
Pihak penyerang akan menyerang dan mencambuk tubuh lawan, terutama bagian
lengan, punggung, dan dada. Tugas pihak lawan adalah menangkis atau menghindari
serangan tersebut dengan perisai dan busur yang ia pegang di masing-masing
tangan. Apabila kurang lincah mengelak maka dipastikan cambuk akan menyisahkan bekas
di tubuh hingga berdarah. Apabila pihak yang bertahan terkena cambuk pada
matanya maka ia dinyatakan kalah (beke) dan kedua penari harus keluar arena dan
digantikan oleh sepasang penari lainnya.
Pedih terlihat samar di mata seorang ta’ang tapi tak boleh di antara ta’ang dan
paki tercipta permusuhan, bahkan amarah sekalipun. Caci adalah sebuah permainan
yang menjunjung tinggi sportifitas dan merayakan sebuah rasa kasih sayang dari
kakak kepada adik. Sungguh tak lumrah, tapi legenda di balik permainan dan
tarian ini akan menjadi sebuah pemahaman.
Bekas luka dari atraksi tari tersebut bagaimana pun juga dianggap sebagai
kebanggaan karena merupakan lambang maskulinitas. Kabarnya Caci merupakan
medium pembuktian ketangkasan seorang laki-laki Manggarai sekaligus sebagai
ajang menempa diri dengan semangat sportivitas.

Dalam mempertunjukkan tarian ini, para penari saling
menghormati satu sama lain dengan menjaga ucapan, emosi, sportifitas, dan rasa
hormat. Selesai pertunjukkan, tidak ada dendam di antara para penari karena
inilah salah satu seni kebanggaan masyarakat Manggarai di Flores bagian barat.
Sebuah pertunjukkan yang unik dimana uji ketangkasan dipadukan dengan seni
berupa gerak tari dan lagu daerah khas Manggarai.
Caci sendiri berasal dari dua kata yaitu 'ca' yang berarti satu dan 'ci' yang
artinya uji. Jadi makna dari caci adalah uji ketangkasan satu lawan satu.
Tarian ini memiliki kisah asal mula, yaitu dahulu kala, dua orang kakak beradik
berjalan melewati hutan padang rumput dengan seekor kerbau yang mereka
pelihara.
Si adik diceritakan terjerumus dalam sebuah lubang dalam sehingga sang kakak
panik mencari apapun untuk menarik adiknya. Tak satu pun dapat membantu
upayanya, kecuali ia harus menyembelih kerbaunya dan menggunakan kulitnya untuk
menarik sang adik. Itu pun akhirnya ia lakukan dan si adik terselamatkan. Untuk
merayakannya, mereka menciptakan permainan Caci untuk memperingati rasa kasih
sayang di antara keduanya.
Seorang petarung Caci mengenakan pangga, sebuah asesoris kepala dan bukan
pelindung wajah. Bentuknya seperti kepala kerbau bertanduk tiga. Di ujung
tanduknya dihiasi bulu ekor kuda. Hal ini mengingatkan dua orang kakak beradik
dalam legenda. Tubuh petarung tak dilindungi seutas kain pun. Celana putih
bersih dikenakan dibalik sarung songket yang terkenal dari Flores atau Sumba.
Ekor kuda pun dipasang dibelakang songket yang menjadikan seorang petarung Caci
seperti layaknya seekor kuda atau kerbau yang gagah dan berjiwa satria.

Tari Caci biasanya hanya dipentaskan pada acara-acara
khusus, yaitu hari-hari besar seperti HUT Kemerdekaan RI atau acara-acara adat
diantaranya syukuran musim panen (hang woja), ritual tahun baru (penti),
upacara pembukaan lahan baru, upacara menyambut tamu, dan sebagainya.
Saat diadakan pertunjukkan caci, biasanya pesta besar pun dilangsungkan dengan
memotong beberapa ekor kerbau kemudian disajikan sebagai makanan bagi para
peserta dan penonton. Biasanya, dua kelompok tari caci merupakan kelompok
laki-laki dari dua desa atau kampung.
Caci dapat juga Anda saksikan setiap bulan-bulan panen antara Juli dan Oktober
di desa-desa sekitar Manggarai, Flores bagian barat. (K-5/el)
Caci, Baku Pecut tanpa Dendam
06/08/2001

Dua kelompok pemuda tampak berdiri dalam
lingkaran. Masing-masing terdiri dari delapan orang. Sebelah tangan memegang
pecut, tangan lain menggenggam tameng. Dengan destar atau ikat kepala dan
sarung songke, para pemuda itu berjejer dan menari dengan lagu daerah yang
dinyanyikan dengan lantang. Tubuh para pemuda itu telanjang. Ya, mereka siap
bertarung.
Seorang pemuda tampak bernyanyi menantang pria dari kelompok lawan. Tantangan
itu disambut senandung dari kelompok sebelah. Pemuda dari kelompok yang
ditantang maju dengan gerakan tarian. Tangan, kepala, dan kakinya bergerak
seirama lagu yang dimainkan. Ciyaat. Bahu salah seorang pemuda tergores senjata
yang terbuat dari batang janur kuning dengan ujung pecut pemukul. Pemuda
tersebut balas memecut. Tapi, sang lawan pandai berkelit, serangannya membentur
tameng. Sekali lagi, ciyaat. Kali ini, serangan pemuda yang terluka itu
mengenai sasaran. Penonton tersenyum. Ada juga yang ngeri tapi bertepuk tangan.
Semuanya tampak menikmati caci, olah raga tradisional suku Manggarai,
Nusatenggara Timur yang digelar di Lapangan Kota Ruteng, ibu kota Kabupaten
Manggarai, baru-baru ini.

Pentas kolosal ini kerap memeriahkan hajatan
tradisional suku yang mendiami Pulau Flores bagian barat itu. Olah raga ini
digunakan para pemuda setempat sebagai ajang menempa diri memiliki semangat
sportivitas. Pertandingan adat ini selalu disemuti penonton. Tua muda, kecil
besar, tumpah ruah menyaksikan pertandingan adu kecepatan dan keluwesan gerak
tubuh ini.
Pertunjukan caci dibuka dengan tarian Danding
atau biasa disebut Tandak Manggarai. Tarian yang diliukkan penari
perempuan dan laki-laki itu memang khusus diadakan untuk meramaikan pertarungan
caci. Gerakan penari Danding lebih seperti tari Vera atau tari Sanda Lima.
Biasanya penari mendendangkan lagu dengan larik memompa semangat para pemain
caci dalam pertandingan. Sebelum beradu, setiap pemain caci akan melakukan
gerakan pemanasan otot. Masing-masing pemain menggerakkan badannya mirip
gerakan kuda. Sambil menari, pemain caci menyanyikan lagu daerah untuk
menantang lawannya. Setiap kelompok yang terdiri dari delapan pemuda itu
mendapat kesempatan bertarung menghadapi lawan. Serangan bisa dimulai dengan
bertindak sebagai pemukul dan pada kesempatan lain menjadi penangkis. Dengan
lincah dan ringan si penyerang menghentakkan pecutnya ke tubuh lawan. Sementara
sang penangkis berupaya memblokade sabetan pecut. Jika kena, tampak garis
merah. Luka memanjang tipis itu membuktikan bahwa penyerang berhasil. Semua
pemain berisiko memiliki bekas sabetan tersebut. Karena itu, masing-masing
berusaha menyerang dan berkelit.
Tidak semua orang Manggarai layak menjadi peserta
caci. Selain harus pria, persyaratan yang wajib dimiliki pemain caci di
antaranya mahir memukul lawan, terampil menangkis serangan, luwes menari, merdu
menyanyikan lagu daerah, dan berpenampilan atletis. Permainan caci ini juga
dijadikan pelajaran berharga bagi anggota suku Manggarai dalam mengendalikan
emosi. Maklum, meski saling mencambuk , tata krama dan sopan santun dalam
gerakan di arena tetap dilakukan. Para pemain tetap memberi hormat pada lawan
setiap beradu. Kedua kelompok terus beradu diringi pukulan gendang. Semua
penonton menikmati permainan ketangkasan itu. Para pemain terus saling serang
dan menangkis. Tubuh telanjang mereka terluka. Namun, tak ada dendam.(TNA/Tim
Potret SCTV)
———————————-
Caci, Tari Pertobatan Khas Manggarai
Liputan6.com, Manggarai:
Tarian khas asal Manggarai, Nusatenggara Timur,
yang disebut Tari Caci saat ini makin jarang ditampilkan. Tidak banyak lagi
kaum muda di desa-desa yang menggemari kesenian yang mirip tari perang ini.
Dalam budaya Manggarai, Tari Caci membawa simbol
pertobatan manusia dalam hidup. Nama Caci sendiri berasal dari dua kata yaitu
“ca” yang berarti satu dan “ci” artinya uji. Jadi Caci bermakna ujian satu
lawan satu untuk membuktikan siapa yang benar dan salah. Tak heran jika tarian
ini selalu dibawakan dua penari.
Agar Tari Caci tak punah, para tokoh adat
Manggarai berharap pemerintah setempat bersedia membantu melestarikan tarian
khas tersebut. Kini Tari Caci hanya dibawakan saat hari-hari besar seperti
perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI.(ADO/Adrian Pantur)
REBA MANGGARAI