Tampilkan postingan dengan label novel ringkasan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label novel ringkasan. Tampilkan semua postingan

Kamis, November 21, 2013

ringkasan umum novel LAYAR TERKEMBANG



Ringkasan Novel "Layar Terkembang"
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjwOlCBxZu5T9Af3pIDSStA163azwSQ1VPltUXxuqJjZNUnRSCTxl_psA4MTGsSXGPsDuHN-JnVs-PrSO-z8SGok26I3WGXsjaR2X2lSVO1gSOCHSbir8iiWa2rmdAxRPpeU0n7NPpe0HA/s1600/layar+terkembang.jpg


Judul Novel     : Layar Terkembang
Pengarang       : St. Takdir Alisjahbana
Halaman          : 166
Penerbit           : Balai Pustaka
Terbit               : Cetakan kedua puluh delapan Tahun 2000
Tokoh              :  - Tuti : Seorang wanita yang memiliki wawasan dan pemikiran                                   modern, ia mencoba menyamakan hak kaum wanita dengan   kaum pria
-      Maria : Adik Tuti yang sangat periang
 -     Yusuf : Seorang pemuda terpelajar yang modern, ia adalah mahasiswa    kedokteran sifatnya baik hati dan berbudi luhur
    -   Supomo : Seorang pemuda terpelajar yang baik hati dan berbudi luhur
Jalan Cerita     :
Tuti adalah putri sulung Raden Wiriatmadja. Dia dikenal sebagai seorang gadis yang pendiam teguh dan aktif dalam berbagai kegiatan organisasi wanita. Watak Tuti yang selalu serius dan cenderung pendiam sangat berbeda dengan adiknya Maria. Ia seorang gadis yang lincah dan periang. Suatu hari, keduanya pergi ke pasar ikan. Ketika sedang asyik melihat-lihat akuarium, mereka bertemu dengan seorang pemuda. Pertemuan itu berlanjut dengan perkenalan. Pemuda itu bernama Yusuf, seorang Mahasiswa Sekolah Tinggi Kedokteran di Jakarta. Ayahnya adalah Demang Munaf, tinggal di Martapura, Sumatra Selatan. Perkenalan yang tiba-tiba itu menjadi semakin akrab dengan diantarnya Tuti dan Maria pulang. Bagi yusuf, pertemana itu ternyata berkesan cukup mendalam. Ia selalu teringat kepada kedua gadis itu, terutama Maria. Kepada gadis lincah inilah perhatian Yusuf lebih banyak tertumpah. Menurutnya wajah Maria yang cerah dan berseri-seri serta bibirnya yang selalu tersenyum itu, memancarkan semangat hidup yang dinamis.
Esok harinya, ketika Yusuf pergi ke sekolah, tanpa disangka-sangka ia bertemu lagi dengan Tuti dan Maria di depan Hotel Des Indes. Yusuf pun kemudian dengan senang hati menemani keduanya berjalan-jalan. Cukup hangat mereka bercakap-cakap mengenai berbagai hal. Sejak itu, pertemuan antara Yusuf dan Maria berlangsung lebih kerap. Sementara itu Tuti dan ayahnya melihat hubungan kedua remaja itu tampak sudah bukan lagi hubungan persahabatan biasa. Tuti sendiri terus disibuki oleh berbagai kegiatannya. Dalam kongres Putri Sedar yang berlangsung di Jakarta, ia sempat berpidato yang isinya membicarakan emansipasi wanita. Suatu petunjuk yang memperlihatkan cita-cita Tuti untuk memajukan kaumnya.
Pada masa liburan, Yusuf pulang ke rumah orang tuanya di Martapura. Sesungguhnya ia bermaksud menghabiskan masa liburannya bersama keindahan tanah leluhurnya, namun ternyata ia tak dapat menghilangkan rasa rindunya kepada Maria. Dalam keadaan demikian, datang pula kartu pos dari Maria yang justru membuatnya makin diserbu rindu. Berikutnya, surat Maria datang lagi. Kali ini mengabarkan perihal perjalannya bersama Rukamah, saudara sepupunya yang tinggal di Bandung. Setelah membaca surat itu, Yusuf memutuskan untuk kembali ke Jakarta, kemudian menyusul sang kekasih ke Bandung. Setelah mendapat restu ibunya, pemuda itu pun segera meninggalkan Martapura. Kedatangan Yusuf tentu saja disambut hangat oleh Maria dan Tuti. Kedua sejoli itu pun melepas rindu masing-masing dengan berjalan-jalan di sekitar air terjun di Dago. Dalam kesempatan itulah, Yusuf menyatakan cintanya kepada Maria.
Sementara hari-hari Maria penuh dengan kehangatan bersama Yusuf, Tuti sendiri lebih banyak menghabiskan waktunya dengan membaca buku. Begitupun demikian pikiran Tuti tidak urung diganggu oleh keinginannya untuk merasakan kemesraan cinta. Ingat pula ia pada teman sejawatnya, Supomo. Lelaki itu pernah mengirimkan surat cintanya kepada Tuti.
Ketika Maria mendadak terkena demam malaria, Tuti menjaganya dengan sabar. Saat itulah tiba adik Supomo yang ternyata disuruh Supomo untuk meminta jawaban Tuti perihal keinginannya untuk menjalin cinta dengannya. Sungguhpun gadis itu sebenarnya sedang merindukan cinta kasih seseorang, Supomo dipandangnya bukan sebagai lelaki idamannya. Maka segera ia menulis surat penolakannya.
Sementara itu, keadaan Maria makin bertambah parah. Kemudian diputuskan untuk merawatnya di rumah sakit. Ternyata menurut keterangan dokter, Maria mengidap penyakit TBC. Dokter yang merawatnya menyarankan agar Maria dibawa ke rumah sakit TBC di Pacet, Sindanglaya Jawa Barat.Perawatan terhadap Maria sudah berjalan sebulan lebih lamanya. Namun keadaannya tidak juga mengalami perubahan. Lebih daripada itu, Maria mulai merasakan kondisi kesehatan yang makin lemah. Tampaknya ia sudah pasrah menerima kenyataan.
Pada suatu kesempatan, disaat Tuti dan Yusuf berlibur di rumah Ratna dan Saleh di Sindanglaya, disitulah mata Tuti mulai terbuka dalam memandang kehidupan di pedesaan. Kehidupan suami istri yang melewati hari-harinya dengan bercocok tanam itu, ternyata juga mampu membimbing masyarakat sekitarnya menjadi sadar akan pentingnya pendidikan. Keadaan tersebut benar-benar telah menggugah alam pikiran Tuti. Ia menyadari bahwa kehidupan mulia, mengabdi kepada masyarakat tidak hanya dapat dilakukan di kota atau dalam kegiatan-kegiatan organisasi, sebagaimana yang selama ini ia lakukan, tetapi juga di desa atau di masyarakat mana pun, pengabdian itu dapat dilakukan.
Sejalan dengan keadaan hubungan Yusuf dan Tuti yang belakangan ini tampak makin akrab, kondisi kesehatan Maria sendiri justru kian mengkhawatirkan. Dokter yang merawatnya pun rupanya sudah tak dapat berbuat lebih banyak lagi. Kemudian setelah Maria sempat berpesan kepada Tuti dan Yusuf agar keduanya tetap bersatu dan menjalin hubungan rumah tangga, Maria menghembuskan napasnya yang terakhir. “Alangkah bahagianya saya di akhirat nanti, kalau saya tahu, bahwa kakandaku berdua hidup rukun dan berkasih-kasihan seperti kelihatan kepada saya dalam beberapa hari ini. Inilah permintaan saya yang penghabisan dan saya, saya tidak rela selama-lamanya kalau kakandaku masing-masing mencari peruntungan pada orang lain”. Demikianlah pesan terakhir almarhum Maria. Lalu sesuai dengan pesan tersebut Yusuf dan Tuti akhirnya tidak dapat berbuat lain, kecuali melangsungkan perkawinan karena cinta keduanya memang sudah tumbuh bersemi.

RINGKASAN UMUM NOVEL
Raden Wiraadmadja memiliki dua orang anak gadis yang sifatnya sangat berbeda, yaitu Tuti dan Maria. Anak pertamanya, Tuti, adalah seorang gadis yang pembawaannya selalu serius sehingga gadis itu cenderung pendiam. Namun, ia sangat berpendirian teguh dan aktif dalam berbagai organisasi wanita. Ia bahkan aktif dalam memberikan orasi-orasi tentang persamaan hak kaum wanita. Pada saat itu, semangat kaum wanita sedang bergelora sehingga mereka mulai menuntut persamaan hak dengan kaum pria. Anak keduanya adalah Maria. Ia memiliki sifat yang lincah, sangat periang, dan bicaranya ceplas-ceplos. Itulah sebabnya, semua orang yang berada di dekatnya pasti akan menyenangi kehadirannya.
Pada suatu sore, kedua kakak beradik itu berjalan-jalan ke sebuah pasar ikan. Ketika mereka sedang melihat ikan-ikan dalam akuarium, mereka berkenalan dengan seorang pemuda tampan yang bernama Yusuf. Ia adalah seorang mahasiswa kedokteran. Ketika pulang, Yusuf mengantarkan kedua gadis itu sampai ke rumah mereka. Sejak pertemuan pertama, Yusuf selalu membayangkan wajah Maria. Senyum dan tingkah Maria yang periang membuat pemuda itu merasa senang berada di sampingnya.
Takdir kembali mempertemukan Yusuf dengan Maria dan kakaknya di depan hotel Des Indes. Dengan senang hati, Yusuf mengantar kedua kakak beradik itu berjalan-jalan. Setelah pertemuan tersebut, Yusuf jadi sering berkunjung ke rumah mereka. Beberapa waktu kemudian Yusuf dan Maria sepakat menjalin hubungan cinta kasih.
Sementara itu, Tuti yang melihat hubungan cinta kasih adiknya, sebenarnya berkeinginan pula untuk memiliki seorang kekasih. Apalagi setelah ia menerima surat cinta dari Supomo. Namun karena pemuda itu bukanlah idamannya, ia tolak. Sejak itu, hari-harinya disibukkan dengan kegiatan organisasi dan melakukan kegemarannya membaca buku sehingga sedikit melupakan angan-angannya tentang seorang kekasih.
Pada suatu hari keluarga Raden Wiraatmadja dikejutkan oleh hasil diagnosis dokter yang menyatakan bahwa Maria mengidap penyakit TBC. Semakin hari kesehatan gadis itu semakin melemah sekalipun ia telah menjalani perawatan intensif. Maria yang periang dan lincah seperti kehilangan semangat hidupnya. Hal ini membuat Yusuf merasa sedih. Pemuda itu mendampingi kekasih hatinya dengan setia. Namun penyakit TBC yang diderita Maria semakin hari semakin parah sehingga tak lama kemudian Maria pun meninggal dunia. Sebelum ia menghembuskan napasnya yang terakhir, ia meminta Yusuf untuk menerima kakaknya sebagai penggantinya. Setelah Maria meninggal dunia, Tuti dan Yusuf menjalin hubungan kasih. Mereka pun sepakat untuk menikah.


Ringkasan Novel Layar Terkembang

http://awan965.files.wordpress.com/2012/10/layar-terkembang.jpg?w=213&h=300Masih ingatkan tokoh wanita di Indonesia yang pernah berjuang melawan penjajah, tokoh wanita yang aktif di organisasi dalam menggerakan kaum wanita, tokoh wanita yang mengangkat emansipasi wanita? Jika masih ingat maka akan lebih asyik lagi jika membaca novel  Layar Terkembang, isi novel ini menurut saya menyampaikan pentingnya kaum wanita untuk beremansipasi dengan tidak meninggalkan kodrat wanita dan kondrat manusia yang selalu tidak lepas dari rasa cinta dan kasih sayang, novel ini sangat seru dibaca oleh para remaja.
Sebagian besar kritikus sastra, antara lain, Aji Rosidi, Zuber Usman, Amal Hamzah, H.B. Jassin , maupun Teuw, menyebutkan novel Layar Terkembang sebagai novel bertendesi. Di antaranya juga ada yang berpendapat bahwa sifat dan pemikiran tokoh Tuti lebih menyerupai sebagai sifat dan pemikiran S. Takdir Alisjahbana, khususnya dalam usaha mengangkat harkat kaum wanita (Indonesia). Tokoh Tuti yang digambarkan sebagai wanita modern yang aktif dalam berbagai  kegiatan organisasi, memang tidak sedikit melontarkan gagasan progresif. Ia juga selalu merasa terpanggil untuk ikut terjun memajukan bangsanya sendiri, khususnya kaum wanita. “Karya penting ketiga diantara roman-roman sebelum perang menurut anggapan umum, ialah Layar Terkembang ….’’ Demikian Tulis Teeuw (Sastra Baru Indonesia 1, 1980).
Bagi yang memerlukan ringkasan novelnya dapat di baca di bawah ini.
Tuti adalah putri sulung Raden Wiriaatmadja. Ia di kenal sebagai seorang gadis yang berpendirian teguh dan aktif dalam berbagai kegiatan organisasi wanita. Watak Tuti yang selalu serius dan cenderung pendiam, sangat berbeda dengan adiknya, Maria. Ia seorang gadis yang lincah dan periang. Suatu hari, keduanya pergi ke pasar ikan. Ketika sedang asyik melihat-lihat akuarium, mereka bertemu dengan seorang pemuda. Pertemuan itu berlajut dengan perkenalan. Pemuda itu bernama Yusuf, seorang mahasiswa sekolah tinggi kedokteran di Jakarta. Ayahnya adalah Demang Munaf, tinggal di Martapura, Sumatra Selatan.
Perkenalan yang tiba-tiba itu menjadi semakin akrab dengan di antaranya Tuti dan Maria pulang. Bagi Yusuf, pertemuan itu ternyata berkesan cukup mendalam. Ia selalu terigat kepada kedua gadis itu, dan terutama Maria. Kepada gadis lincah inilah perhatian Yusuf lebih banyak tertumpah. Menurutnya, wajah Maria yang cerah dan berseri-seri serta bibirnya yang selalu tersenyum itu, memancarkan semangat hidup yang dinamis. Esok harinya, ketika Yusuf pergi ke sekolah, tanpa disangka-sangka ia bertemu lagi dengan Tuti dan Maria di depan hotel Den Ides. Yusuf pun kemudian dengan senang hati, menemani keduanya berjalan-jalan. Cukup hangat mereka bercakap-cakap mengenai berbagai hal.
Sejak itu, pertemuan antara Yusuf dan Maria berlangsung lebih kerap. Sementara itu, Tuti dan ayahnya melihat hubungan kedua remaja itu tampak sudah bukan lagi hubungan persahabatan biasa. Tuti sendiri disibuki oleh berbagai kegiatannya. Dalam kongres yang berlangsung di Jakarta, ia sempat berpidato yang isinya membicarakan emansipasi wanita; suatu petunjuk yang memperlihatkan cita-cita Tuti untuk memajukan kaumnya.
Pada masa liburan, Yusuf pulang ke rumah orang tuanya di Martapura. Sesunguhnya, ia bermaksud menghabiskan masa liburannya bersama keindahan alam tanah leluhurnya. Namun, ternyata, ia tak dapat menghilangkan rasa rindunya kepada Maria. Dalam keadaan demikian, datang pula kartu pos dari Maria yang justru membuatnya makin diserbu rindu. Berikutnya, surat Maria datang lagi. Kali ini mengabarkan perihal perjalanan bersama Rukamah, saudara sepupunya  yang tinggal di Bandung. Setelah membaca surat itu, Yusuf memutuskan untuk kembali ke Jakarta, kemudian menyusul sang kekasih ke Bandung. Setelah mendapat restu ibunya, pemuda iu pun segera meninggalkan Martapura. Kedatangan Yusuf tentu saja di sambut hangat oleh Maria dan Tuti. Kedua sejoli itu pun lalu melepas rindu masing-masing dengan berjalan-jalan di sekitar air terun di Dago. Dalam kesempatan itulah, Yusuf menyatakan cintanya kepada Maria.
Sementara hari-hari Maria penuh dengan kehangatan bersama Yusuf, Tuti sendiri lebih banyak menghabiskan waktu nya dengan membaca buku. Sungguhpun demkian, pikiran Tuti tidak urung diganggu oleh keinginannya untuk merasakan kemesraan cinta. Ingat pula ia pada teman sejawatnya, Supom. Lelaki itu pernah mengirimkan surat cintanya kepada Tuti.
Ketika Mari mendadak terkena demam malaria, Tuti menjaganya dengan sabar. Saat itulah tiba adik Supomo yang ternyata di suruh Supomo untuk meminta jawaban Tuti perihal keinginannya untuk menjalin cinta dengannya. Sungguhpun gadis itu sebenarnya sedang merindukan cinta kasih seseorang, Supomo dipandangnya sebagai bukan lelaki idamannya. Maka, segera ia menulis surat penolakannya.
Sementara itu, keadaan Maria makin bertambah parah. Kemudian diputuskan untuk merawatya di rumah sakit. Ternyata, menurut keterangan dokter, Maria mengidap penyakilt TBC. Dokter yang merawatnya  menyarankan agar Maria di bawa ke rumah sakit TBC di Pacet, Sindanglaya, Jawa Barat. Perawatan terhadap Maria sudah berjalan sebulan lebih lamanya. Namun keadaannya tidak juga mengalami perubahan. Lebih dari pada itu, Maria mulai merasakan kondisi kesehatan yang makin lemah. Tampahnya, ia sudah pasrah menerima kenyataan.
Pada suatu kesempatan, di saat Tuti dan Yusuf di rumah Ratna dan Saleh di Sindanglaya, di situlah mata Tuti mulai terbuka dalam memandang kehidupan di pedesaan. Kehidupan suami-istri yang melewati hari-hari nya dengan bercocok tanam itu, ternyata juga telah mampu  membimbing masyarakat sekitrnya menjadi sadar akan pentingnya pendidikan. Keadaan tersebut benar-benar telah menggugah alam pikiran Tuti. Ia menyadari bahwa kehidupn mulia mengabdi kepada masyarakat, tidak hanya dapat dilakukan di kota atau dalam kegiaan organisasi, sebagaimana yang selama ini ia lakukan, tetapi juga di desa atau di masyarkat mana pun, pengabdian itu dapat dilakukan.
Sejalan dengan keadaan hubungan Yusuf dan Tuti yang belakangan ini tampak makin akrab, kondisi kesehatan Maria sendiri justru kian mengkhawatirkan. Dokter yang merawatnya pun rupanya sudah tak dapat bebuat lebih banyak lagi . kemudian, setelah Maria sempat berpesan kepada Tuti dan Yusuf agar keduanya tetap bersatu dan menjalin hubungan rumah tangga, Maria menghembuskan nafasnya yang terakhir. ‘’Alangkah bahagianya saya di akhirat nanti, kalau saya tau , kakandak berdua hidup rukun dan berkasih-kasihan seperti kelihatan kepada saya dalam beberapa hari ini….. Inilah permintan saya yang penghabisan , dan saya, saya tidak rela selama-lamanya, kalau kakandaku masing-masing mencari peruntungan pada orang lain’’ (hlm. 209). Demikianlah pesan terakhir almarhum, Maria. Lalu, sesuai dengan pesan tersebut, Yusuf dan Tuti akhirnya tidak dapat berbuat lain, kecuali melangsungkan perkawinan karena cinta keduanya memang sudah tumbuh bersemi.










REBA MANGGARAI

Sabtu, November 16, 2013

ringksan novel laskar pelangi



REBA MANG

Ringkasan Novel dan Film Laskar Pelangi Yang Fenomenal
Filed under: Umum
http://img501.imageshack.us/img501/3134/laskarpelangito4.jpg<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>Begitu banyak kisah yang terjadi pada kesepuluh tokoh dalam anggota Laskar Pelangi. Masing-masing individu yang ada memiliki karakter serta jalan hidup yang berbeda-beda. Salah satunya adalah Mahar, ia bak setetes embun yang menyejukkan dianatara anggota-anggota Laskar Pelangi lainnya. Karena diantara yang lain hanya Mahar lah yang memiliki karakter yang seru. Mahar adalah sosok anak yang periang, punya banyak ide, santai, cuek dan sangat berbakat dalam bidang seni terutama musik, namun tak ayal ide-ide briantnya membuat sahabat-sahabatnya anggota Laskar Pelangi berpandangan bahwa terkadang pola pikir Mahal tidak masuk akal atau tidak logis.
Suatu siang yang terik disaat teman-temannya sibuk memikirkan tugas sekolah. Mahar malah asyik dan santai mendengarkan musik lewat radio bututnya. Ia selalu menerawang berimajenasi bahwa suatau saat nanti ia akan menjadi seorang seniman yang terkenal. Teman-teman anggota Laskar Pelangi yang lain yakni Ikal dan Lintang hanya tersenyum geli melihat ulahnya tersebut. Tak ada hal lain yang dikerjakan Mahar selain berdendang diatas pohon favoritnya yakni pohon filicium. Seolah telah menjadi tempat tinggalnya sendiri, pohon itu telah memberikan inspirasi bagi seorang Mahar dalam menyalurkan bakatnya dalam bidang musik. Hingga suatu ketika sekolah SD Muhammadiyah tempatnya sekolah mendapatkan undangan untuk mengikuti lomba karnaval 17 Agustus. Dan pada saat itu lah mahar di percaya oleh Bu Mus sebagai sutradara atau ketua pelaksana untuk membuat ide prtunjukkan apa yang kan mereka hadirkan pada saat karnaval itu berlangsung.
Dengan perasaan senang serta antusiasme yang tinggi, Mahar menyanggupi perintah Bu Mus kepadanya. Ia sangat bergembira karena dengan hal itu, ia bisa mengwujudkan cita-citanya menjadi seorang seniman. Selang waktu berlalu dari perintah yang diembankan kepadanya tersebut, Mahar pun segera bertindak mengumpulkan ide-idenya. Teman-teman anggota Laskar Pelangi sempat berpikir Mahar menjadi sangat aneh semenjak ditugasi oleh Bu Mus sebagai ketua pelaksana. Karena mereka sering melihat Mahar melakukan gerakan aneh-aneh di lapangan dekat sekolah mereka itu. Selain itu Mahar pun sering melamun diatas pohon favoritnya, falicium yang rindang sambil mendengarkan radio.
Suatu hari diatas pohon filiciumnya, Mahar terlihat menerawang jauh kedahan-dahan pohon yang memilki daun-daun yang berukuran lebar. Seketika ia tersenyum seolah telah menemukan ide yang bagus untuk acara karnaval yang akan segera berlangsung itu. Maka disuatu dore yang indah ia mengajak teman-teman anggota Laskar Pelangi untuk mengikutinya kesebuah lapangan yang luas. Sontak teman-temannya tersebut binggung apa yang sebenarnya ingin Mahar lakukan terhadap mereka. Namun dengan senyum jenaka yang menjadi ciri khasnya Mahar hanya mengatakan bahwa mereka akan diajak berlatih tarian untuk lomba karnaval saat 17 Agustus nanti. Dengan perasaan yang masih binggung mau tak mau akhirnya teman-temannya pun mengikuti kemauan Mahar. Dengan senyum dan tawa tak tertahankan, Ikal, Lintang dan teman-teman Mahar lainnya merasa lucu dengan koreografi ciptaan Mahar. Bagaimana tidak jenis tarian yang mereka bawakan seperti mirip dengan tarian dari daerah Irian Jaya, sungguh menarik dan lucu. Namun meskipun sempat dikomentari oleh para temannya, Mahar tetap optimis dengan tarian tersebut. Ia yankin bahwa dia dan teman-temannya akan memenangkan lomba karnaval tersebut. Saat salah satu temannya bertanya mengenai kostum karnaval kepadanya, Mahar tersenyum dan santai. Ia mengatakan bahwa ia telah mempersiapkan kostum yang pas dengan tarian yang kan mereka bawakan. Ucapan Mahar tersebut membuat teman-temanya menjadi saling beradu pandang, karena sulit membayangkan kostum yang dimaksud oleh Mahar.
Hari karnaval pun telah tiba, SD PTN telah tampil secara memukau dengan tim Marcing Bandnya.Dari tahun sekolah milik pemerintah tersebut selalu memenangkan lomba karnaval. Mungkin itu disebabkan karna pemerintah selalu menyalurkan dana untuk melengkapi fasilitas disekolah tersebut berbeda dengan SD muhammadiyah di Belitong yang semraut dan tak terawat. Meskipun begitu di dalam hati dipertunjukkan karnaval itu bahwa sudah saatnya sekolah Muhammadiyah yang miskin ini menjadi mentari yang bersinar terik mengalahkan para peserta lomba yang lainnya, termasuk sekolah PTN yang elit itu.
Menjelang tampil tak lelahnya Mahar memberikan teman-temannya semangat, ia membagikan satu persatu daun-daun yang lebar. Ia mengatakan iau adalah kostum specialnya yang telah ia rencanakan jauh-jauh hari untuk pertunjukkan karnaval. Meskipun agak pesismis namun teman-temannya menuruti saja untuk mengenakan kostum daun tersebut. Mereka pun berfikir untuk optimis dengan idenya Mahar yang sedikit aneh itu. Para anggota Laskar Pelangi pun tampil bak seorang penari daerah dari Irian Jaya. Muka mereka dicoreng-moreng dengan menggunakan arang hitam, badan mereka hanya ditutupi oleh lembaran daun-daun lebar.
Dengan sedikit aba-aba dari Mahar, maka semua tim penari itu pun rapi berbaris sesuai dengan gerakan yang mereka latih selama ini. Gerakan menggemaskan serta terkesan lucu dan konyol tersebut , membuat orang-orang yang menoton pertunjukan karnaval tertawa terpikal-pikal, Bu Mus terlihat kagum dengan lakon anak-anak muridnya tersebut. Terutama kepada Mahar, tak urung mata nya begitu berbinar mengingat bakat yang dimiliki anak didik itu.
Pengumuman lomba pun akhirnya tiba, tak disangka-sangka berkat tarian unik ciptaan Mahar SD Muhammadiyah keluar sebagai juara pertama mengalahkan SD PTN yang setiap tahunnya selalu memenangkan lomba karnaval. Mahar dan kawan-kawan tersenyum haru dan gembira saat mendengan pengumuman tersebut, tak henti-hentinya mereka bersorak riang. Bu Mus terlihat berkaca-kaca menahan haru, ia pun sangat bangga dengan prestasi pertama yang diraih oleh sekolah tempatnya mengajar itu.
Satu piala bergensi akhirnya disabet, pihak penyelenggara memberikan sebuah lemari untuk tempat menyimpan piala. Meskipun lemari tersebut tidak dapat ditutup karena kunci pintunya rusak, namun tetap saja membuat para anggota Laskar Pelangi tak bosan memandangi satu-satunya piala yang mereka miliki tersebut. Mahar pun kini setaraf dengan Lintang dan kawan-kawannya yang lain. Mampu mengembangkan dirinya sehingga berhasil mencapai prestasi yang sesuai dengan minat bakat yang dimiliki.
Bertahun-tahun sudah semenjak kejadian karnaval itu, kini anak-anak anggota Laskar Pelangi telah berajak dewasa. Ikal melajutkan pendidikannya ke Prancis karena ia mendapatkan beasiswa kesana, sedangkan Lintang terpaksa putus sekolah semenjak ayahnya meninggal saat melaut. Begitu pun nasib akhir dari Mahar, ternyata cita-citanya untuk menjadi seniman yang urung diwujudkannya karena ia pun tak bisa melajutkan sekolah, faktor biaya menjadi hambatannya. Nasib Mahar berakhir sebagai kuli pemarut kelapa.
Alasan saya memilih tokoh Mahar adalah karena ia merupakan anak yang kreatif, mampu membaca kondisi yang terjadi di lingkungannya. Selain itu ia anak yang tak kenal putus asa, memiliki ide-ide yang cemerlang dan mampu mengaplikasikannya secara sempurna. Ia pun memiliki motivasi untuk mengwujudkan cita-citanya menjadi seorang seniman, meskipun ia harus berbesar hati melepaskan niatnya tersebut karena harus putus ditegah jalan.

GARAI